Saya dihantui rasa khawatir sepanjang perjalanan
dari Situbondo menuju Surabaya untuk menghadiri undangan BBPMP Jawa Timur.
Mulanya saya mengira undangan itu adalah penipuan. Menjelang siang, saya tiba
di hotel Movenpick, harus menunggu 2 jam lagi untuk registrasi memastikan
kegiatan ini benar-benar ada.
Dua hari sebelumnya saya menerima e-undangan lewat
whatsapp yang saya kira penipuan, hanya membaca sekilas. Saya meminta istri,
sebagai guru yang pernah diundang bimtek oleh BBPMP Jatim untuk memastikan undangan
tersebut bukan penipuan. Kemudian saya memastikan barcode TTE
apakah asli, pranala barcode mengarah ke aplikasi sinde.kemendikbud
dengan domain ekstensi go.id, berarti beneran.
Dari daftar undangan ada nama saya dan Wilda dari
Situbondo. Kemudian ada nama Ali dari sutera.id yang saya tahu dia pegiat
sastra di Jember tapi saya tidak mengenalnya. Beberapa anggota takanta atau
yang sedang kuliah di Unej sering nimbrung bersama sutera.id. Hari itu saya
langsung menghubungi Ali dan Wilda apakah akan hadir di acara ini. Saya yakin
di acara ini akan medapat sesuatu yang baru—entah apa itu.
Sehari sebelum berangkat saya sudah mempersiapkan
barang bawaan dan berkas atau kelengkapan administrasi yang perlu dibawa.
Sesuai jadwal travel dari Situbondo, saya berangkat pukul 5 pagi, mewakili
Takanta ID dan Wilda mewakili Komunitas Penulis Muda Situbondo (KPMS).
Jam 12 lebih, saya langsung registrasi di lantai 3.
Ada perasaan lega setelah mengetahui kegiatan ini benar-benar ada. Saya
menyerahkan berkas, mengisi formulir, dan mendapatkan buku tulis, pen, kaos,
buku panduan acara dan tas. Untuk check in masih pukul 1
siang, panitia menyarakan untuk makan siang terlebih dahulu dan bergabung grup
whatsapp melalui barcode yang telah disediakan. Acara ini akan
berlangsung mulai tanggal 19 – 21 Juni 2024 dengan tema “Kumpul Komunitas dan
KOL Lokal dalam Rangka Komunikasi Program Prioritas Ditjen PDM Tahun 2024”.
Saya makan siang, menikmati kue dan buah di lantai
7, disuguhkan pemandangan langit cerah, rumah-rumah, bangunan menjulang tinggi,
dan lalu-lalang kendaraan dari atas. Pikiran saya sesekali ikut mengembara ke
mana-mana. Terbayang keluarga di rumah, teman-teman ngopi atau tempat kerja.
Selesai makan siang, saya masuk kamar, rupanya di
dalam sudah ada seorang. Saya saling berkenalan dan berbincang-bincang sejenak.
Namanya Pak Lukman, ia menyerahkan 3 buletin yang sudah ditekuni selama ini.
Saya membaca sekilas.
Pak Lukman ke kamar mandi. Saya berencana pindah
kamar, soalnya tidak boleh merokok. Saya tidak sempat berpamitan karena takut
tidak dibolehkan oleh resepsionis. Di loby saya janjian sama Ali sembari
menyerahkan barang titipan. Dia meminta kamar yang boleh merokok, rupanya kamar
yang saya tempati boleh ditukar dan sekamar dengan Ali. Saya kembali ke kemar
untuk mengambil barang, ingin pamit, rupanya Pak Lukman tidak ada di kamar.
Saya sedikit membayangkan nanti Pak Lukman akan kaget ketika saya berubah
menjadi sosok lain yang masuk ke kamar itu.
***
Acara pembukaan, menjelaskan maksud dan tujuan
kegiatan, kebijakan pemerintah dan program prioritas Kemendikbudristek. Saya
merasa senang bisa diundang untuk saling belajar, menambah wawasan, menguatkan
komunitas dalam mendukukung pemerintah terkait kurikulum merdeka.
Hari pertama selesai sekitar pukul 9 malam. Saya
lanjut ngobrol santai dengan beberapa teman dari Madura di kolam renang,
sembari menikmati malam, melihat lampu-lampu di beberapa sudut Surabaya, cuaca
tampak dingin tapi obrol kami makin hangat, berbicang literasi, saling berbagi
cerita, budaya dan ide-ide yang akan dikerjakan.
Saya rasa semua teman yang hadir di kegiatan ini
merasakan hal yang sama, saling silang gagasan, curhat pribadi, mengenalkan
kenangan-kenangan yang berkualitas tentang sesuatu yang digeluti termasuk
aktivitas komunitas baik teman sekamar ataupun teman lainnya. Barangkali cerita
itu bisa saling menyemangati, menginspirasi dan pasti ada sesuatu pelajaran
yang bisa dipetik. Ini semacam bonus yang saya rasa itu sangat penting sebagai
salah satu bekal setelah acara ini.
Di hari kedua, paginya terasa lesuh, suntuk, mata
terasa sepet, akibat kurang tidur semalaman. Tapi materi yang
dibawakan oleh Cak Mus membuat saya selalu terjaga, teman-teman yang lucu,
penuh tawa, suasana ruangan lebih hidup dan peserta lebih aktif. Membahas peran
komunitas dalam implemetasi kurikulum merdeka. Di forum Cak Mus, kita juga bisa
saling mengenal berbagai macam komunitas: kegitan, tantangan, kendala dan
senangnya berkomunitas
Tetapi bukan itu yang membuat saya semangat dan
antusias mengikuti apa yang disampaikan Cak Mus. Di awal Cak Mus pernah bilang,
peserta hadir pikiran dan raganya. Pikiran tidak boleh ke mana-mana. Melihat
Cak Mus yang berkecipung di dunia permainan tradisional, sosoknya seperti
prasasti masa lalu. Membawa ke masa-masa kecil, suara-suara itu terngiang.
Dulu di tahun 2014, saya pernah membuat list nama-nama
permainan tradisonal zaman kecil di blog. Dari daftar yang saya posting,
saya share lagi di grup-grup facebook untuk meminta mereka
untuk memberikan komentar terkait permainan-permainan yang belum masuk daftar,
rupanya list nama permainan bertambah. Saya ingin
mendokumentasi, alat dan cara bermainnya atau barangkali bisa mengajak
anak-anak di desa bisa bermain itu lagi. Akan tetap keinginan saya terbengkalai
hingga sekarang saya sudah melupakan itu. Melihat Cak Mus, mau tidak-mau saya
harus memecah raga ke masa-masa kecil yang benar-benar menyenangkan, zaman
tidak ada gawai atau internet masuk desa.
Cak Mus mungkin menjadi salah satu pelestari
permainan tradisional yang masih giat. Mungkin saatnya untuk memulai juga.
Dengan kemajuan teknologi ini menjadi tantangan tersendiri. Apabila dibiarkan
ancamannya yaitu permainan tradisional mulai tergerus, jarang dimainkan atau
bahkan ada sebagian yang sudah hilang. Tergantikan dengan permainan
modern yang barangkali lebih canggih, seru dan menantang.
Di akhir acara, saya mengahampiri Cak Mus,
berbicang-bincang dan foto bersama. Hari itu juga saya sedikit membayangkan
diri saya berdiri lalu menjura kepada Cak Mus—seperti dalam film-film
kanuragan—salam hormat.
Pemateri dilanjut sama Bu Hilda. Jika di media
sosial saya sering mengikuti konten-konten bapak2id kali ini anggap saja versi
ibu-ibu atau ibu-ibu profesional. Cukup seru, interaktif, dan penuh kejutan.
Isu ibu-ibu bagi saya bukan sesuatu hal yang tabu. Forum bu Hilda bisa menjadi
amunisi untuk mendukung istri dalam meningkatkan karir, kualitas rumah tangga
dan mendidik anak bersama.
Di sesi coffe break, saya menghampiri
Pak Lukman, sedang menuang kopi atau teh, saya lupa..
“Mohon maaf kemarin saya pindah kamar, Pak Lukman.”
“Lah iya, kemarin saya saya heran kenapa ganti
orang yang masuk kamar, loh temen saya sebelumnya mana.”
“Haha, Gak bisa merokok di sana, Pak. Saya mau
pamit sampean gak ada di kamar.”
“Oh begitu, Kalau kena asap rokok saya bisa batuk.”
Kemudian kami berbincang hal lainnya tentang
kegiatan-kegitan komunitas. Pak Lukman termasuk orang yang aktif di forum.
***
Menjelang pukul 10 malam, acara sudah selesai, saya
sedikit pusing, mungkin gara-gara tidur tidak cukup, atau mungkin karena ada
pekerjaan pribadi yang belum selesai. Saya kembali ke kamar, menyeduh bubuk
kopi —saya bawa dari rumah—berharap malam ini masih bisa terjaga untuk
menyelesaikan tugas Cak Mus untuk membuat video.
Kopi terasa pahit, saya tambah gula aren, malah
tetap pahit, saya tambah gula aren, lagi-lagi masih pahit. Sudahlah, saya
mengerjakan pekerjaan satu persatu, menghabiskan waktu di depan laptop dan saya
juga menyelesaikan editing video. Terasa lega. Jam udah berada
di angka 1 dinihari, sudah waktunya terlelap.
Terbangun jam 5 pagi, mata terasa berat, saya
membersihkan sampah di meja, baru tahu semalam bukan menambah gula aren tapi
kopi bubuk stik yang disediakan hotel.
Hari ketiga di pagi hari mungkin adalah hari
perpisahan. Saya mengikuti materi lanjutan Pak Mamuk setelah semalam banyak
berbicara optimalisasi dan management media sosial, kali ini membedah hasil
tugas video yang dibuat berkelompok. Kami menerima banyak masukan sebagai
amunisi untuk membuat konten positif atau praktif baik di berbagai platfom
media sosial. Sesi berikutnya adalah penutupan, bagi-bagi hadiah, foto bersama,
bersalaman antar peserta dan panitia. Gak terasa acara sudah selesai. Udah
dulu.
***
Saya berpamitan sama Ali, yang dari awal menjadi
teman diskusi di kamar. Sampai jumpa lagi. Selamat tinggal kamar hotel nomer
219.
Sesuai jadwal travel saya berangkal pulang dari
hotel Movenpick pukul 3 sore. Surabaya macet, jam 9 malam baru sampai rumah. Capek
dan lelah tapi terbayar dengan acara yang seru dan membawa amplop
pengganti transport dan harian. Sesekali kepingan kenangan
selama kegiatan menghampiri. Membekas.
Satu hal yang saya dapat dari beberapa teman yang
mewakili komunitas ialah spirit berbagi kepada masyarakat atau generasi muda di
dunia pendidikan (alternatif) dengan berbagai cara dan bidang masing-masing.
Dan mungkin suatu hari nanti bisa berkolaborasi antar komunitas.
Terima kasih untuk acara yang luar bisa ini kepada
BBPMP Jatim: menghadirkan narasumber keren dan mempertemukan dengan teman-teman
unik, konyol, nekat, gigih dan penuh kehangatan.
Seperti kata Cak Mus, mari bertepuk tangan
berkali-kali di atas kepala, kemudian bilang sukses yang keras sembari di
arahkan ke diri sendiri sebagai perwakilan komunitas. Ulangi lagi kali ini di
arahkan kepada penyelenggara BBPMP Jawa Timur. SUKSES 1.000 x.
